NGALOR NGIDUL LAGI

Minggu, September 28, 2014


Mumpung ada sedikit relevansi dengan trending topic yang lagi anget, saya lanjutkan ngalor ngidulnya. Yang udah capek ya istirahat yak?! 

Sedikit penjelasan tentang wawancara yang bagian blekathak blekuthuk was wes wos itu.

Fyi, wawancara adalah tahap kesekian dari sekian tahap (mbulet yoben ) yang mesti dilalui untuk terpilih jadi komisioner KPU. Itu terjadi september tahun lalu. Tersisa 20 kandidat dari 80-an pendaftar. Di tahap itu saya mulai merasa tersesat ndaftar ke KPU. Setengahnya tertantang, setengahnya ngeri. Tapi the show must go on..nanggung lah.

Jadilah wawancara itu berlangsung dengan penuh keajaiban. 

Tiba di topik kehidupan kepartaian. Entah ditanya apa, tiba-tiba saya menguraikan “…Partai yang baik, mencetak kader, bukan sebaliknya. Artinya, fungsi rekrutmen politik berjalan. Yang terjadi di Indonesia, kader mencetak partai. Jika seorang aktifis partai tak cocok dengan kebijakan partainya atau melihat bahwa partai tak cukup potensial mendukung ambisinya, keluarlah dia, bikin partai baru. Tak ada urusan ideologis apapun di situ. Pragmatis saja. Bikin partai semata untuk jadi kendaraan menuju tampuk kekuasaan. SBY bikin Demokrat, atau Surya Paloh bikin Nasdem. (Seingatku, aku gak nyebut Prabowo bikin Gerindra) 

Tak berjalannya fungsi rekrutmen politik terlihat nyata saat diterapkan kebijakan kuota 30% caleg perempuan. Partai kelabakan. Saking sulitnya cari kader perempuan, ibarat monyet , asal betina, kalau ndaftar diterima Pak!” 

Hihihi, kalimat terakhir terinspirasi dari salah satu novel Andrea Hirata. Saat itu Pak gurunya Ikal, yang namanya saya lupa, mendeskripsikan betapa memprihatinkannya mutu sekolah tempat anaknya diterima. Dialog itu memotivasi Ikal untuk lebih serius belajar, mengingat betapa gurunya sendiri tak bisa membuat anaknya diterima di sekolah Ikal itu. Jangan heran yak, saya memang pengingat yang cermat untuk hal remeh temeh macam begini. 

Itulah susahnya kalo pembaca novel nyasar ndaftar jadi komisioner. Kekacauan bisa muncul di sembarang kesempatan. Mungkin kekacauan yang dibuat, setara dengan kekacauan yang diakibatkan seorang yang berpassion nyanyi, tapi tersesat menjadi presiden. *eh 

Kembali ke wawancara. 

Mendengar pemaparan saya, panelis tim seleksi ada yang bertanya “ Anda tampak sinis dan pesimis sekali dengan situasi politik Indonesia. Apa menurut anda sudah tak ada harapan?”
Jawaban saya seperti sudah saya ceritakan di status sebelumnya, kepedeannya gak kira-kira. “ Ya, kalo orang semacam saya, masih bisa diterima, berarti masih ada harapan, Pak! “ *Gubrak, gubrak deh 

 
Etapi sodara, you know what?! Saya lolos. Masuk 10 besar yang berkesempatan maju ke fit and proper test. Mungkin karena jawaban nan ngawurnya gak ketulungan itu. Baru di test kelayakan dan kepatutan ini terbukti kalo saya belum layak jadi anggota KPU kabupaten. Sebelumnya memang sudah tak layak, hanya belum terbukti. Hahahaha ----> telunjuk miring tempel ke jidat kucing 
 
Menjelang fit proper test itu saya sibuk berdamai dengan diri sendiri. Saya katakan, IRT dan KPU hanya beda-beda tipis. IRT ngurus opor ayam, KPU ngurus oportunis. IRT ngurus ompol, KPU ngurus parpol. Beda tipis kan?. Nothing to be afraid of. Begitulah kalo emak-emak dasteran nyasar ndaftar ke KPU, rasionalisasi yang dibuat tak jauh-jauh dari soal anak dan bumbu. 
 
Oya, fyi, dialog wawancara tak persis di atas tadi. Tapi intinya begitulah kira-kira. 

Btw, soal parpol dan pilkada. Feeling saya kok itung-itungan mereka pragmatis juga. Pokoknya kemana duit bertiup, ke situ opini dibentuk. *kejeron-ora-ki 
 
Namanya feeling, tak perlu dasar kan? Jadi kurang berguna buat diperdebatkan *padune-wedi 
 
Yo wis, ngono kuwilah. Ngalor ngidule tamat. 

Selamat memuliakan bulan Dzulhijjah temans !

You Might Also Like

0 komentar