Senin, 20 April 2015

MADU ASLI, SEMUT DAN KULKAS

  • Banyak mitos salah yang diyakini masyarakat soal ciri madu asli. Berikut ini penjelasan mbak Wina Kusnadi, teman fesbuk yang seorang pakar madu. 
  • Madu yg tidak di rubung semut biasanya madu yg kadar airnya lebih dari 23% (karena semut sdh tdk bisa meminum madu dgn kadar air tinggi)....sebagian semut jg suka madu lo...n sebagiannya tidak suka..... kalau madu dimasukkan ke kulkas (madu asli or palsu) madu asli sebagian yg berasal dari nektar (pakan lebah) akasia maka akan mengkristal or mengental n membentuk granulasi (sifat madu dipengaruhi oleh viskositas yg membentuk granulasi) tetapi bila didiamkan selama beberapa jam bahkan ber bulan2 madu tidak akan kembali seperti semula/ tp kalau madu palsu maka akan cepat mengkristal seperti halnya es yg dimasukin plstik (zaman anak2 dulu sebutnya es lidi or es kero) dan kalau di keluarkan dari kulkas maka akan mencair n meleleh dengan cepat dan bila kristal2 di makan akan terasa krekes2nya... (ini berdasarkan penelitian kantor sy ) 2005 madu hutan riau (munggut di pohon sialang hutan riau) dimasukkan ke dalam kulkas (hanya dipintu) selama 5 tahun (2010) dari 10 sampel dengan pohon n ekologi sebaran pakan yg berbeda memang sebagian yg berasal dari sumber pakan nektar akasia mengkristal tetapi masih terdapat cairan madu nya lo walau 5 th di taruh di botol2 dalam kulkas..... ini menurut pengalaman sy yg sudah lumayan berkecimpung di perlebahan hutan riau. dan kalau di rubung semut biasanya madu yg di panen belum matang or istilah perlebahannya (sarang belum tertutup sempurna oleh lilin lebah....jd belum mateng tp sudah dipanen...

  • ini contoh nya...u menambah informasi mengenai perlebahan n permaduan...yg paling atas itu madu (bagian yg mengelembungn putih artinya sarang sudah matang n terisi penuh oleh madu dan ditutup dan dilapisi oleh lilin....di bawanya pojok kiri itu adalah pollen or tepung sari (berbagai sumber tepungsari dari berbagai bunga2an sebagai makanan cadangan bagi lebah pada musim paceklik. yg tengah2 itu adalah sarang anakan (telur, pupa n larva) dan yg paling bawah adl sarang yg baru alias belum terisi baik madu or anakan.... Iya benar sekali pak...tetapi kalau tekanan uapnya kencang berarti terjadi ferentasi oleh enzim diastase nah itu tu....ciri madu yg mengandung enzim diastase yg tidak bisa di masukkan ke dalam madu palsu....dan tetapi bila terlalu tinggi enzim diastase nya jg tidak bagus.

Kamis, 15 Januari 2015

THE MAN STILL BEHIND THE GUN

Ini postingan pertama pake hape baru. Yang namanya bayangan dan kenyataan memang sering berlainan. Sebelum punya hape ini, saya pengin bisa ngeblog tiap hari, sambil apa saja. Ealah giliran udah punya hape yang gampang buat ngeblog, ternyata tetap saja malas menulis tiap hari, hiks. Ini udah seminggu di tangan, dan baru sekarang aku bikin postingan. Hiks dulu.
Jaman belum punya hape yang bisa buat fesbukan, tiap nyetatus mesti buka komputer, gak bisa sambil lalu.

Senin, 29 Desember 2014

JALAN TERJAL BERNAMA PEMBANGUNAN KARAKTER (CATATAN KECIL DARI LPSF 2012)



Dalam jangka sangat pendek, jauh lebih mudah menyuruh anak untuk diam dengan satu kalimat bentakan, daripada mencontohkan ketenangan. “Diam!”. Senyap akan segera menyergap, dan anak akan segera terdiam. Tercapai tujuan. Dalam jangka menengah dan panjang, bentakan nan efektif itu akan jadi bumerang. Tak perlulah kiranya disebutkan wujud sang bumerang, tetapi kira-kira tak ada yang mengenakkan. Dalam skala entitas bangsa, bentakan “Diam!”, setara dengan tindakan represif aparat negara terhadap dinamika masyarakat.

Setali tiga uang. Intonasi membentak pada kata “Sabar!”, akan segera diikuti tindakan menahan diri sang pemrotes. Tercapai tujuan. Tapi dengarkan gerutuan yang mengikutinya. Menyuruh sabar tanpa mencontohkan kesabaran, sama saja melempar bumerang. Akibatnya akan kembali pada diri sendiri. Mencontohkan kesabaran jelas tak mudah. Yang kita harapkan mencontoh pun seringnya tak segera tahu dan sigap menangkap pelajaran itu. Di situlah letak kesabaran yang sebenarnya. Segala yang genuine, hampir selalu seperti itu. Prosesnya panjang, terjal dan berliku. Tapi jangan khawatir, hasilnya pun sebanding. Bertahan lama, dikenang, dan mengesankan.

Membangun bangsa yang berkarakter tentu lebih kompleks dari membentuk individu berkarakter. Menjadi tugas negara sebagai organisasi bangsa untuk membangun karakter bangsanya, dan menjadi tugas pemerintah selaku pengurus negara untuk menjalankan segala program guna membentuk bangsa yang berkarakter.

Memproduksi film-film yang membangun karakter, adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk itu. Cerita, kisah, dan dongeng, yang dituangkan dalam bentuk buku, drama radio, film, atau apapun telah diakui efektifitasnya dalam membangun karakter manusia. Al Qur’an sendiri, yang diturunkan oleh Sang Pencipta manusia, banyak sekali menceritakan kisah-kisah sebagai media pemberi ibrah / pelajaran. Bahkan ada satu surat dalam Al Qur’an yang khusus berisi kisah, yaitu Al Qashash ( Kisah-kisah). Itu artinya, menceritakan kisah adalah salah satu cara yang efektif  menggerakkan manusia menuju arah yang diinginkan sang pemberi kisah. Dan media film, jelas lebih sophisticated sebagai media penyampai kisah, pemberi ibrah dan pembentuk karakter daripada semata media cetak/ tulis.

Maka, jika pemerintah sebagai pengurus organisasi bangsa, menginginkan warganya menjadi manusia berkarakter, keharusan memproduksi flm-film bermutu, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Masalahnya memang tak akan mudah. Keputusan untuk memproduksi film, jika diambil oleh jajaran birokrasi pasti berbelit. Tarik ulurnya sangat politis. Apa ukuran outputnya. Perubahan karakter tak bisa diangka-kan. Mengkonversi pembangunan karakter ke dalam perubahan angka, adalah simplifikasi yang dipaksakan. Tidak nyambung. Bagaimana mengukur signifikansi perubahan yang ditimbulkan oleh sebuah film? Apa variabel-variabelnya. Dan sebagainya, dan sebagainya. Dalam hegemoni budaya angka, segala sesuatu yang tidak bisa diangka-kan, dianggap tak ada. Kalau dianggap tak ada, maka sekaligus juga akan dianggap tak perlu. Dan mungkin itulah logika para pengurus negara.

Bahwa kemudian ada perubahan mindset, itu jelas perlu disyukuri. Tapi harus terus dilakukan advokasi, agar perubahan pola pikir ini, bukan sesuatu yang  bersifat sangat temporer  hanya karena atmosfer politik  tertentu atau program personal sang pemegang kuasa.

Sebagai entitas besar, bangsa ini mungkin hampir kehilangan karakter, karena berbagai badai persoalan. Kita lihat tawuran dipertontonkan, bukan saja oleh pelajar dan mahasiswa, tapi oleh anggota Dewan! Kita sering dengar himbauan untuk hidup sederhana dan hemat energi didengungkan oleh para petinggi yang hidup serba wah. Seruan untuk bersikap nasionalis digemakan seiring penyerahan aset-aset bangsa pada asing atas nama privatisasi. Ajakan anti korupsi digelorakan oleh orang-orang yang belakangan diketahui belangnya sebagai koruptor. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Jika kata-kata saja tak cukup efektif mempersuasi orang, apakah pula kiranya jika ia disertai tindakan yang kontradiktif dengan arah seruan. Yang terjadi kemudian adalah kata dan himbauan berseliweran tak tentu arah, mental dari sasaran, hanya membuat kegaduhan, dan akhirnya kehilangan makna, menyisakan gejala bangsa dengan split personality. Melelahkan.

Tapi mungkin masih banyak harapan. Melalui film-film bermutu, karakter bangsa bisa dibangun. Saya memang tak punya bukti statistiknya, karena perubahan karakter adalah suatu yang sangat kualitatif. Dan sungguh sangat menyejukkan, ketika seorang juri dari Lomba Penulisan Skenario Film 2012, Bp. Hadi Artomo,  menyampaikan bahwa ia menangis setiap melihat naskah skenario para nominator. Naskah sebagus ini harus difilmkan, kira-kira begitu. Dan menyadari bahwa itu hal yang tak mudah, membuat beliau menangis.

Dalam paradigma industri, memang pasarlah sang eksekutor sukses tidaknya sebuah film. Tapi dalam paradigma agama, segala sesuatu yang menyeru kepada kebaikan, dengan niat dan cara yang benar, maka ia tak kan pernah menjadi sia-sia. Tak kan pernah. ###


Memori di Puri Casablanca, Kuningan, Jakarta, Desember 2012.

Ini oleh-oleh saya dari even LPSF 2012 yang diadakan oleh Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud Pusat. Catatan kecil ini setelah di posting di Fb mendapat banyak apresiasi, dan kemudian dilampirkan pula dalam LPJ Panitia Lomba pada Dirjen Kebudayaan. Amazing! 


SEMBAKO MIMPI INDONESIA BEBAS KORUPSI

Kalau mau  Indonesia bebas korupsi, mudah saja. Buang kata korupsi dari semua kamus dan mesin pencari. (Mimpi Siti, 2014)

Ada yang aneh dalam kemenangan pasangan Ganjar-Heru dalam Pilgub Jateng 2013 lalu. Dalam kampanyenya, pasangan yang diusung PDIP  itu mengangkat jargon “Mboten Korupsi Mboten Ngapusi”. Jargon ini secara jeli dikemas menjadi tema kampanye yang menjual, sehingga Ganjar-Heru sukses mendulang suara menjadi Jateng Satu. 

Lantas, apa yang aneh?  Ya jelas aneh. Kemenangan jargon itu merupakan indikasi bahwa korupsi sudah benar-benar mendarah daging  dan menulang sumsum dalam praktek penyelenggaraan negara di Indonesia. Mboten korupsi dan mboten ngapusi ( tidak korupsi dan tidak menipu) yang seharusnya adalah moralitas standar yang sewajarnya dimiliki oleh penguasa, sekarang telah menjadi moralitas prestatif yang istimewa. Ini gila!

Pengangkatan tema ini oleh PDIP dan Ganjar-Heru, di satu sisi menunjukkan kejelian mereka pada topik yang mencuri perhatian rakyat. Tetapi di sisi lain, ini merupakan pengakuan yang benderang bahwa korupsi dan ngapusi (menipu) sudah menjadi kewajaran perilaku penguasa, sehingga pasangan yang menjanjikan untuk tidak korupsi dan tidak menipu ini menjadi pasangan yang pantas menang. Jika moralitas standar dianggap sebagai moralitas prestatif, maka bayangkanlah, betapa rendah moralitas standar para penguasa sekarang! See?

Tentu saja, selain pilihan jargon, faktor mobilisasi efektif dari mesin partai juga menentukan kemenangan itu. Tetapi tanpa bidikan isu sentral yang menjual dan memikat hati rakyat, mesin partai juga tak akan bisa banyak berbuat. Ya apa iya?

Bicara data korupsi, barangkali telah banyak diungkap. Semua rekam jejak itu, membisikkan aroma pesimisme yang sangat. Disegala lapis, korupsi begitu membudaya, dalam berbagai bentuk dan coraknya. Para pihak yang berusaha menjaga diri dari korupsi, justru sedemikian terkucil dan terintimidasi.

Mari kita urai penyebabnya  satu persatu demi menemukan akar persoalan dan mencabutnya sebelum tumbuh mejadi pepohonan. Inilah sembako mimpi Indonesia bebas korupsi :

1.     Konon, menurut para pakar psikologi anak, dongeng adalah salah satu media penyampai pesan yang efektif masuk ke alam bawah sadar anak. Alam bawah sadar ini, meski tak nampak, secara efektif akan menyetir perilaku anak bahkan sampai masa dewasanya nanti. Luar biasa!  Mari kita lihat, dongeng apa yang paling populer di kalangan anak-anak. Ya! Kancil Nyolong Timun! Dongeng itu di satu sisi menunjukkan kecerdikan si kancil, tetapi di sisi lain ia membimbing kepada tipu muslihat dan memperalat orang lain untuk memperkaya diri.
Negara dengan etos kerja yang kuat, seperti Jepang dan Eropa, dongeng anak-anaknya  kebanyakan bercerta tentang kerja keras dalam mencapai cita-cita atau akibat serius dari membohongi orang. Pinokio misalnya.Nah ketemu satu akar. Cabut! Semoga generasi mendatang, lebih baik etosnya.Amiin.

2.     Kultur ewuh-pakewuh. Entah siapa yang memulai, tak jelas lagi.Seperti telur dan ayam, tak tahu lagi mana yang ada duluan. Kebiasaan memperlancar urusan dengan memberi tip kepada aparat telah membudaya sedemikian rupa. Mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Polsek, Polres, Polwil, KUA,Samsat, Imigrasi, dan semua tempat pelayanan publik lainnya sarat dengan praktek tak beres semacam ini. Dari sisi warga, tak enak kalau tak kasih. Dari sisi aparat, tak kerja kalau tak dikasih. Klop!
Stop! Enak tak enak, jangan kasih. Yang kompak dong. Bikin gerakan yang massif, melalui saluran apa saja. Sosmed, petisi, media massa, penyuluhan, apa saja. Gencarkan.Angkat duta sosialisasi untuk misi itu. Kerahkan simpul-simpul komunitas untuk gerakan ini. Maju! Bikin para penyogok dan penerima suap itu merasa terintimidasi jika masih saja menjalankan praktek korupsi kelas martabak ini.Horeee!

3.     Budayakan tertib. Tampak sepele, tapi ini membangun kultur dan karakter. Tertib mengantri, jangan main serobot. Tertib prosedur, jangan main jalan pintas. Tertib di jalan, jangan tabrak ramu-rambu. Tertib menjaga fasilitas umum, jangan ada vandalisme, buang sampah sembarangan, dan sebagainya.Tertib administrasi, jangan melanggar prosedur. Tertib merokok, hanya di ruang yang khusus untuk itu. Dan tertib-tertib lainnya. Gerakan-gerakan sederhana jika digalakkan dengan masif dan konsisten, akan ada hasil yang menakjubkan nantinya. Butuh satu dua generasi, tapi percayalah, jika sudah menjadi kultur seluruh warga negara, hasilnya akan awet sepanjang masa.

4.     Jangan main sosial media di waktu kerja. Itu korupsi waktu. Anda dibayar bukan untuk hahahihi di Facebook, cekakakan di Whatsapp, berkicau di Twitter,narsis di Instagram, kencan di Path, nonton AADC di Line, atau pacaran di We Chat.Ini kultur kerja yang kondusif menumbuh-suburkan korupsi. Permisif!

5.     Para petinggi pendidikan, tolong kembalikan pendidikan pada misinya yang mula-mula, memanusiakan manusia. Bukan untuk mengejar simbol-simbol angka kosong makna. Jangan paksa guru mencekoki anak dengan target tak penting yang bahkan tak ada gunanya buat masa depan siapapun. Angka-angka ujian yang didapat tanpa belajar keras, hanya dari contekan yang bahkan diberikan sang guru untuk seluruh kelas, demi sebuah status sebagai sekolah terakreditasi baik. Unbelieveable!

Apa yang dihasilkan dari pendidikan semacam ini kalau bukan manusia-manusia hipokrit yang bahkan tak tahu untuk apa dia ada di dunia ini. Anak-anak yang jujur,konon justru tersingkir, diintimidasi agar bergabung dengan ketololan dan kemunafikan yang didesain secara massif, terstruktur dan sistematis. Duh Gusti, gimana korupsi tak membiak cepat kalau pendidikannya begini?

6.     Jujurlah sedari rumah. Para orangtua, jangan ajari anak berbohong pada debt collector yang mengetuk pintu ruang tamu, jangan bohongi anak hantu-hantu hanya agar dia mau tidur, makan, belajar, atau aktifitas apapun.  Katakan apa adanya, sampai anak tak bisa melihat, bahwa ada benda bernama kebohongan di dunia. Aih, indahnya.

7.     Kuatkan tauhid. Alloh SWT Maha Mengawasi, Maha Melihat segala gerakhati, Maka Teliti menilai lintasan pikiran, apalagi perbuatan. Bumikan agama sampai ke tataran taqwa tertinggi. Merasa diawasi oleh-Nya dimanapun berada. Merasa takut akan azab-Nya yang pedih tak terkira. Merasa cinta yang mencegah dari pengkhianatan sekecil biji sawi sekalipun. Mulailah semua itu dari keteladanan sang pemimpin, formal maupun informal. Mimpi memang, tapi bukan mustahil kan?

8.     Hentikan korupsi politik, salah satunya dengan meniadakan semua demokrasi  prosedural biaya tinggi. Kembalikan partai pada fungsinya semula, sebagai komunitas ideologis yang melembaga, bukan sebagai kendaraan politik pragmatis semata. Sederhanakan pemilu dengan merancang sistem yang mudah, murah berakar pada kultur asli Indonesia,musyawarah mufakat. Desainlah  sistem pemilu yang mampu menjaring tokoh-tokoh masyarakat yang benar-benar memperjuangkan kepentingan mereka, agar mampu tampil ke permukaan tanpa biaya. Biayanya semata reputasi sosial yang dibangun bertahun-tahun dengan tulus. Mulus tanpa fulus. Hahahaha, bermimpilah, selagi mimpi masih gratis!
Demokrasi transaksional dengan biaya tinggi, adalah ritual yang prosedurnya demokrasi,tetapi substansinya adalah kleptokrasi. Demokrasi prosedural adalah situasi di mana rakyat membayar mahal, untuk mendapatkan pemimpin yang agenda pertamanya  setelah terpilih, adalah berkhianat. Ini ironis dan kejam, tapi nyata! Ayo pikirkan ulang, duduk bersama dengan kepala dingin. Dengarkan suara hati, apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan bangsa ini. Kewarasan! Tak lebih tak kurang,tak lain tak bukan.

9.     Kembalikan pers pada fungsinya, sebagai pilar keempat demokrasi. Informasi adalah oksigennya demokrasi. Jika informasi yang diserap masyarakat adalah informasi sarat bias, tak jujur dan seimbang, maka tak perlu menunggu lama terbentuknya masyarakat yang pincang. Berat sebelah menilai semua keadaan,dan tak lagi jernih melihat keadilan. Alam pikir sedemikian adalah media pembiakan kultur cari aman. Itu kultur tempat korupsi tumbuh subur. Ayo pers,waraslah kembali! Pilpres sudah lewat. Para tokoh yang kalian dukung sudah mendapat jatahnya masing-masing, tak perlulah lagi para kroco gontok-gontokan,untuk sesuatu yang entah kapan didapatkan.

Oke,demikian sembako mimpi saya untuk Indonesia Bebas Korupsi. Namanya juga mimpi,bolehlah setinggi langit, biar kalaupun jatuh, jatuhnya di antara bintang-bintang. 

Tapi, mari kututup mimpi ini dengan kabar gembira.Aku punya seorang teman yang jadi penyidik di KPK. Di grup alumni, beliaulah yang paling rajin mengingatkan kami akan fitnah dunia. Bahwa manusia dan dunia, laksana semut dan tetesan madu. Pada awalnya semut mencicipi tetesan madu sedikit di tepi-tepinya. Merasa manis dan lezat, ia makin ke tengah biar makin banyak madu yang dinikmatinya. Makin lama makin ke tengah lalu iapun mati tenggelam di dalamnya. Begitulah ibarat yang disampaikan sang penyidik KPK, teman sekelasku masa SMA. Mendengar tausiyahnya itu, aku melihat Indonesia Bebas Korupsi, bisa jadi bukan mimpi. Semoga! ***

Ini naskah lomba bertema Menuju Indonesia Bebas Korupsi yang diadakan GNPK (Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi) awal Desember 2014. tak ada kabar berita sampai lewat masa pengumuman, yang dijanjikan tgl 9 Des 2014. Weelah..gimana mau bebas korupsi ya, kalo GNPK-nya aja gak tepat janji begitu. Hiks.





IKHLASLAH BUNDA DAN BAHAGIALAH KARENANYA

Judul Buku          :Bahagia Ketika Ikhlas ( Merasa Bahagia Ketika Hati Ikhlas MenjalankanTugas  Sebagai Ibu )
Penulis               :Rena Puspa
Penerbit             :PT Elex Media Komputindo
ISBN                  : 978-602-02-4557-7
Tahun Terbit       :2014
Tebal Buku          :186 halaman



Menjadi ibu dengan sekian kesibukan dan tanggungjawab tanpa bekal hati  ikhlas, adalah serupa pekerja yang harus bekerja 24 jam nonstop untuk semua jenis pekerjaan yang membutuhkan segala jenis ketrampilan  tetapi di ujung hari tak menerima bayaran. Sungguh menyedihkan.  Lebih menyedihkan lagi, banyak ibu yang karena beragam sebab, berada dalam kondisi yang demikian. Gagal  memaknai pekerjaan harian sebagai bentuk ibadah yang jika ikhlas, akan berbalas surga di Hari Kemudian.

Persis di titik inilah kehadiran buku Bahagia Ketika Ikhlas ini menemukan nilai pentingnya. Buku ini membimbing para ibu memaknai kesibukan sehari-hari sebagai anak tangga menuju surga-Nya, tanpa terobsesi menjadi ibu yang sempurna. Gaya tutur penulis yang empatis berhasil membawa pembaca memaknai ikhlas dan mengaplikasikannya dalam kesibukan sehari-hari,  tanpa merasa digurui atau dihakimi. 

Awal buku ini menggebrak dengan pemaparan fakta bahwa ibu rumah tangga penuh (full time mom) justru lebih rentan terkena stress daripada ibu yang bekerja. Pemaparan ini disertai dengan beberapa data dan berita pendukung yang menyadarkan pembaca bahwa kompleksitas tugas seorang ibu, beserta minimnya apresiasi atasnya adalah pemicu stress yang berbahaya. Banyak kasus sadisme yang dilakukan seorang ibu pada anak-anaknya berawal dari stress yang bertumpuk dalam pikiran bawah sadar para ibu, lantas meledak dalam bentuk yang tak terduga dan sangat mengerikan,pembunuhan  (hal 9).

Selanjutnya penulis mengajak pembaca untuk menelusuri penyebab stress para ibu, dari mulai sebab hormonal yang menyertai proses haid,kehamilan, melahirkan dan menyusui (bab 2). Proses kehamilan, kelahiran dan menyusui adalah rangkaian proses yang dikendalikan banyak hormon, sehingga rentan memicu stress. Sugestikan pada diri bahwa kitalah pemimpin semua hormon itu sehingga kitalah yang akan mengendalikan efek stress akibat kerja hormon-homon tersebut (notebox hal 36). Bab ini juga dilengkapi dengan tips sederhana mengatasi berbagai stress hormonal berdasarkan pengalaman empiris penulis yang pernah menderita  baby blues syndrome.

Setelah menelusuri penyebab stress hormonal, bab selanjutnya memaparkan tentang penyebab stress eksternal pada ibu. Aspek yang dibahas meliputi hubungan antara ibu dengan anak, suami, lingkungan, peran sebagai manajer keuangan, baby sitter, pekerja rumah tangga, sampai teknik mengenali emosi negatif dalam diri dan tips-tips mengatasinya (hal 39-82)

Jika anda adalah ibu yang berprinsip bahwa kebahagiaan terletak pada kesempurnaan pelaksanaan tugas dan kewajiban, maka buku ini akan membalik prinsip itu. Kebahagiaan ibu justru adalah bekal dan dasar bagi terlaksananya tugas dan kewajiban  secara sempurna. Penulis mengajak para ibu untuk untuk jujur pada diri sendiri,melihat dan menerima kelebihan dan kekurangan diri secara utuh, sebagai bentuk karunia-Nya yang harus di syukuri lantas dimaksimalkan potensinya untuk mendukung pelaksanaan tugas sebagai ibu. Paparan lengkap tentang menjadi ibu yang apa adanya tapi tetap berbahagia ada di bab 4 (hal 83-105).

Menerima diri apa adanya, termasuk mengakui adanya hasrat ingin dihargai adalah salah satu anak tangga menjadi ibu yang bahagia. Hanya saja hasrat ingin dihargai itu dialihkan tidak lagi pada manusia, tetapi mintalah dihargai Alloh SWT saja. Jika penghargaan itu kita minta langsung pada-Nya, maka  seorang ibu akan memiliki motivasi untuk melakukan tugas dengan sebaik-baiknya, menikmati proses tanpa ngoyo dengan hasil, tetap berbahagia saat apresiasi orang lain minim, dan punya harapan akan bayaran yang tak hingga besarnya, surga. Luar biasa!

Selain itu, buku ini juga mengulas tahapan-tahapan menuju ikhlas yang paripurna dengan menggunakan teori Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu.Tekhnik ini memungkinkan rasa ikhlas bisa dipelajari dan dimiliki para ibu tanpa kecuali. Ikhlas ternyata dimulai dari penerimaan utuh terhadap segala kekurangan diri. Setelah penerimaan penuh syukur itu, maka lihatlah Alloh akan menunjukkan jalan agar kelemahan itu bisa kita ubah menjadi kekuatan.

Di samping semua kelebihannya, buku ini juga memiliki kekurangan.Yang agak sepele tapi serius adalah penulisan  desprete, padahal yang dimaksud adalah desperate.  Melihat bahwa kesalahan penulisan itu berulang, tampaknya penulis dan editor kompak lupa atau tidak tahu akan penulisan yang benar dari kata itu. Selain itu, pemilahan dan pembahasan bab terasa tumpang tindih, sehingga ada beberapa hal yang terasa diulang-ulang,khususnya tentang menjadi ibu bahagia.

Tetapi kekurangan itu tak mengurangi segala nilai lebih yang dimiliki buku ini. Buku ini ditulis dengan gaya tutur sederhana dan bahasa sehari-hari yang mudah dicerna. Dengan tampilan warna pink, dengan  kertas  yang buram dan nyaman di mata, secara fisik buku ini enak dibaca. Poin-poin penting tiap halaman yang di highlight  dalam notebox yang memudahkan pembaca mengambil intisari buku, jika belum sempat membacanya secara total. Membaca buku ini seperti mendengar tuturan sahabat dengan empati yang tinggi, tanpa penghakiman yang  mengintimidasi. 

Jika selama ini membaca buku parenting membuat anda merasa terintimidasi karena merasa diri jauh dari kriteria ideal sebagai orang tua,maka buku ini menyajikan hal yang sebaliknya. Tetaplah menjadi ibu yang apa adanya, maka semua yang ideal akan datang ke genggaman anda. Syaratnya satu, ikhlaslah.

Mari para bunda, ikhlaslah dalam tugas-tugas anda, maka bahagia dalam segala porsinya, akan menjadi milik anda.
***

Resensi ini jadi Juara 2 Lomba Resensi yang diadakan penulisnya. Rena Puspa, Desember 2014. Lumayan, kembali modal berlipat-lipat, hehe..

KETIDAKSIAPAN CALEG PEREMPUAN

Kampanye terbuka sudah dimulai, tetapi banyak caleg tampaknya gagap mental menyambutnya. Di dunia maya tengah ramai beredar foto seorang caleg perempuan dari Ngawi,  Jawa Timur yang tengah melakukan ritual mandi di sebuah sungai keruh demi ambisi meraih kursi di Pemilu Legislatif 9 April nanti. Foto itu kontan menuai decak keprihatinan, hujatan dan olok-olok dari para netizen.


Caleg perempuan berinisial MJ ini berasal dari Partai Demokrat untuk Dapil V, DPRD Ngawi, Jatim. Ini adalah kali kedua caleg perempuan menjadi bulan-bulanan secara masif oleh para netizen setelah beberapa waktu lalu  Angel Lelga (AL) mengalami hal serupa. AL menjadi olok-olok setelah penampilannya di acara talkshow Mata Najwa di MetroTV justru menunjukkan kapasitas yang rasanya kurang memadai untuk menjadi seorang anggota legislatif.

Kedua kejadian berbeda tersebut menunjukkan hal yang sama, yaitu ketidaksiapan caleg perempuan bertarung dalam kompetisi politik berupa Pileg 2014. Si caleg MJ menunjukkan irasionalitas dan kegagapan mental dengan melakukan tindakan yang kontraproduktif terhadap agama dan elektabilitasnya sekaligus, sedangkan AL menunjukkan dengan telanjang pada publik minimnya kapasitas intelektual dan strateginya memenangkan kompetisi ini.

Dugaan publik bahwa nomor urut caleg menjadi ajang jual-beli antara caleg dan partai pengusung pun menguat. Alih-alih menaikkan elektabilitas, kemunculan AL dalam talkshow itu justru menelanjangi dagelan tak lucu yang dilakukan oleh parpol dengan memasang para selebritis di daftar caleg. Semakin jelas, siapa bermodal kuat akan dapat nomer urut atas, tak soal kapasitas macam apa yang dimilikinya.Tak hanya mengabaikan soal kapasitas dan kapabilitas caleg, nomer urut caleg juga mengabaikan jenjang pengkaderan atau karir politik si caleg di parpol yang bersangkutan. Buktinya, caleg kutu loncat dan politisi dadakan, asal figurnya populer dan diperkirakan bisa menjadi vote getter bagi partainya  juga ditempatkan di nomer potensial jadi. Ini salah satu indikasi malfungsi parpol dari sisi rekrutmen politik.

Kecenderungan parpol yang pragmatis semacam ini mendemotivasi anggota masyarakat untuk meniti karir politik dengan menjadi aktifis ideologis parpol. Tak ada jaminan bahwa reputasi yang susah payah dibangun sekian lama di lingkungan partai, akan memperoleh reward yang memadai. Seringkali figur populer dari kancah antah berantah mengambil alih posisi strategis  begitu saja, menyingkirkan kader internal parpol yang merintis reputasi sejak lama. Politik yang seharusnya menjadi ajang luhur memperjuangkan kemaslahatan orang banyak, terdistorsi maknanya menjadi praktek transaksional yang pragmatis. Tak beda transaksi jual beli.

Jika parpol memberi iming-iming pada AL bahwa caleg no urut 1 adalah caleg jadi,maka partai tersebut juga telah melakukan semacam tindakan pembodohan pada si caleg, karena dalam sistem pemilu proporsional terbuka,  pemilih leluasa untuk langsung mencoblos caleg nomer berapapun yang dikehendakinya. Artinya, nomer urut ataspun, jika gagal meraih simpati pemilih  maka dia tak akan terpilih. Apalagi jika dapil tempat si caleg dicalonkan, adalah dapil “kering”bagi parpol ybs, karena tak adanya basis massa potensial mereka di situ. Meski bermodal popularitas sebagai selebritis, AL tetap harus bekerja keras meraih suara. Patut dikasihani, jika hal semacam ini belum dipahami sang caleg.

Di sisi lain, buruknya citra parpol menyusul korupsi masif para kadernya di legislatif, memicu apatisme akut warga masyarakat. Apatisme ini memaksa para caleg bekerja lebih keras untuk mendulang suara. Ini berbanding lurus dengan kebutuhan amunisi kampanye yang tidak sedikit. Meniru sikap pragmatis anggota legislatif, masyarakatpun kini tak lagi malu-malu untuk menjual suaranya secara terbuka. Politik uang pun membiak bentuknya, dari bantuan sosial, “serangan fajar” sampai modus “pasca bayar”. Para caleg perempuan dengan modal pas-pasan bisa jadi akan kehilangan peluang, betapapun cemerlang modal sosial mereka. Apakah lagi yang sejak awal modal sosial, finansial dan kapasitas personal  mereka biasa-biasa saja. Sebaliknya yang berkampanye secara jor-joran, secara logika akan fokus pada upaya mengembalikan modal jika telah terpilih jadi anggota dewan. Tentu saja, jika urusannya mengembalikan modal, kepentingan rakyat tak lagi krusial.

Bergesernya fokus pemilih dari partai ke individu juga mencerminkan kegagalan parpol menjalankan fungsinya sebagai agen komunikasi politik yang bertugas melakukan agregasi dan artikulasi kepentingan rakyat. Bukannya menjadi penyuara aspirasi rakyat, parpol justru berubah jadi “sarang penyamun”. Saat ada caleg yang memperjuangkan kebijakan pro-rakyat yang berseberangan dengan kepentingan pragmatis partai, sang caleg malah di-recall. Secara politis,  melakukan recall terhadap kader yang pro-rakyat, adalah blunder bagi  elektabiliktas parpol, tetapi mereka diuntungkan oleh kecenderungan pendeknya ingatan kolektif masyarakat terhadap rekam jejak semacam itu.

Bagi caleg perempuan, implikasi malfungsi parpol semacam ini jelas berat, karena parpol manapun tak bisa diandalkan sebagai kendaraan politik menuju kursi idaman. Sang caleg harus membangun reputasi individunya sendiri di ranah publik. Ini butuh waktu lama, sementara rakyat sudah sangat apatis, dan jarak pencalonan dengan saat pemilihan terlalu pendek untuk membangun reputasi.Akhirnya ditempuhlan cara-cara instan nan pragmatis dan sering irasional. Politik uang, “ngalap berkah” ke tempat-tempat keramat, datang ke paranormal, kong kalikong dengan oknum penyelenggara pemilu, hingga menyiapkan “jalur bebas hambatan” ke MK jika harus berselisih dengan KPU. Sayangnya, untuk semua upaya itu uanglah yang pada akhirnya bicara. Siapkah caleg perempuan? ***

Penulis adalah blogger dan salah satu anggota PAW (Pengganti Antar Waktu)
 KPU Kab Banjarnegara

Artikel ini tayang di Rubrik Wacana, Suara Merdeka , 24  Maret 2014. Judul aslinya adalah Malfungsi Parpol dan Nasib Caleg Perempuan. Kepanjangan kali, jadi diganti, hehe. Ini dia link-nya

SIAPKAH PEREMPUAN BERPOLITIK



Melalui perjuangan berliku, gerakan perempuan berhasil membuat affirmativ action kuota 30% keterwakilan perempuan dalam legislatif pada UU Pemilu No 8/2012 menjadi lebih bergigi. Tetapi, tanpa pembekalan dan penyadaran gender yang memadai, keberadaan perempuan dalam kepengurusan parpol dan lembaga legislatif potensial mementahkan kembali pencapaian penting ini.


Menyambung tulisan sdri Umi Nadliroh di rubrik ini 20/2-2013 lalu, tentang “Kuota atau Kapabilitas”, penulis tertarik untuk menggarisbawahi bahwa antara kualitas dan kuantitas caleg perempuan adalah hal yang sama pentingnya. Penulis sepakat dengan tambahan bahwa caleg perempuan yang dikehendaki dalam konteks perjuangan mencapai kesetaraan gender adalah caleg yang responsif gender.

MDG’s SEBAGAI DESAIN BESAR
Para caleg perempuan perlu memahami bahwa affirmativ action adalah kebijakan khusus yang bersifat sementara untuk mendorong terlibatnya perempuan dalam ranah pengambilan keputusan publik secara lebih masif. Kebijakan ini merupakan rute yang diambil untuk mencapai salah satu di antara 8 Millenium Developments Goals (MDG’s) yang disepakati 189 negara anggota PBB yang ditandatangani di New York September 2000, dan ditargetkan tercapai pada tahun 2015 nanti. Poin ketiga dalam MDG’s itu mengharuskan negara mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Kebijakan ini juga merupakan konsekwensi bagi Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi CEDAW tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi pada perempuan, yang tertuang dalam UU No 7 th 1984 . Dalam pasal 2 ayat f UU No 7/1984 tersebut mewajibkan negara membuat peraturan yang menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik.

Kuatnya budaya patriarki membuat jurang kesenjangan partisipasi perempuan dan laki-laki terlanjur menganga. Untuk itu dibuatlah affirmativ action sebagai langkah akselerasi mempersempit kesenjangan tadi. Dalam kerangka inilah dibuat strategi PUG (Pengarusutamaan Gender) melalui Inpres No 9 th 2000, lalu diperkuat dengan Kepmendagri No 132 th 2003, lalu Permendagri No 15 th 2008. PUG adalah strategi untuk tercapainya kesetaraan AKPM (Akses, Kontrol, Partisipasi dan Manfaat) antara laki-laki dan perempuan dalam pembangunan dengan mengintegrasikan perspektif gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan, termasuk di dalamnya politik. Dalam pengertian yang lebih luas, PUG tidak hanya berurusan dengan perempuan, tetapi pemihakan secara luas pada kelompok lemah dan marginal lainnya, seperti anak-anak, kaum miskin, difabel dan usia lanjut.

Dalam bidang politik rute PUG yang ditempuh adalah dengan inisiasi dan advokasi agar proses dan tahapan dalam Pemilu menjadi lebih sensitif dan responsif gender. Kuota 30 % perwakilan perempuan telah tercantum dalam pasal 65 UU No 12 th 2003, tentang Pemilu. Tanpa sanksi, pasal ini seperti macan ompong, dan hanya menghasilkan aleg perempuan di DPR hasil Pemilu 2004, sebanyak 63 orang dari total 550 aleg atau 11,45 %. Ironisnya, jumlah ini justru lebih rendah dibanding era Orde Baru, yang mencapai angka 12 %. 

Belajar dari hasil tersebut, maka revisi UU Pemilu berikutnya pada pasal 55 ayat 2 dan pasal 214 dalam UU No 10 th 2008 menetapkan sistem zipper (selang-seling) antara caleg laki-laki dan caleg perempuan. Tetapi sayang, pasal ini dibatalkan oleh MK melalui putusan No 22-24/ PUU-IV/2008. Pembatalan ini membuktikan bahwa lembaga sebesar MK pun ternyata belum sensitif gender, dengan melihat UU Pemilu hanya dari kacamata hukum ansich. Menurut Komnas Perempuan, demokrasi yang dipahami MK adalah demokrasi prosedural, dan bukannya demokrasi substantif, karena menafikan perlakuan khusus terhadap kelompok marginal. Pemilu 2008 menghasilkan aleg perempuan sebesar 18 % dari total 560 Aleg atau sebanyak 102 orang. Meski ada peningkatan dari Pemilu sebelumnya, tetapi tetap masih jauh dari kuota.


Kemajuan cukup signifikan dibuat dalam revisi UU Pemilu No 8/2012 yang bertabur pasal yang memihak pada perempuan. Penulis menemukan setidaknya 7 pasal pemihakan, termasuk pasal 67 ayat 2 tentang keharusan parpol untuk mengumumkan prosentase keterwakilan perempuan dalam daftar calon tetap mereka pada media massa cetak harian nasional dan media elektronik nasional. Ini adalah inisiasi bagi tumbuhnya tanggungjawab parpol terhadap publik atas keseriusan mereka melaksanakan aksi affirmasi ini.

KESIAPAN CALEG PEREMPUAN
Jalan bagi keterlibatan perempuan dalam politik telah luas dibentangkan. Untuk masuk dunia politik, siapapun memerlukan kapasitas personal, modal sosial dan finansial yang memadai. Siapkah perempuan? Serius pulakah parpol membuat sistem kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan demi menemukan kader perempuan yang potensial ? Dari sisi ini affirmatif action  bisa menjadi salah satu pintu yang “memaksa” parpol untuk serius melakukan kaderisasi yang sistematis dan berkelanjutan, karena tanpanya niscaya parpol akan kelabakan mencari kader perempuan tiap Pemilu menjelang.

Kebijakan ini juga menjadi pintu untuk memperjuangkan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan, anak-anak, lansia, difabel, dan kaum marginal lainnya. Tentu saja caleg yang bisa diharapkan adalah caleg perempuan yang cakap dan sensitif gender. Parpol perlu membekali caleg perempuan dengan wawasan yang memadai tentang “medan tempur” yang akan dimasukinya. Menempatkan perempuan tanpa kapasitas personal yang cukup dalam daftar caleg, sama saja melepas mereka ke hutan belantara tanpa peta. ***


Penulis adalah Ketua Jarpukbara (Jaringan Perempuan Usaha Kecil Banjarnegara) 

Artikel ini dimuat di Suara Merdeka, 27 Februari 2013. Ini dia link-nya.